Teknologi Neural Shot memungkinkan penembak mengendalikan peluru menggunakan sinyal otak. Peluru ini bisa berubah arah, mengejar target yang bergerak, dan bahkan memilih bagian tubuh mana yang ingin diincar secara spesifik—semuanya dalam sepersekian detik.
Saat diuji dalam simulasi urban, Peluru Pintar berhasil menembak musuh yang bersembunyi di balik dinding baja, berkat chip nano yang bisa memindai struktur ruang. Senjata ini membuat pasukan elit hampir tak terkalahkan dalam pertempuran jarak dekat.
Tapi di tangan yang salah, teknologi ini berubah menjadi horor. Seorang pembelot berhasil menyambungkan Peluru Pintar dengan jaringan otaknya yang terganggu secara psikologis. Senjatanya tak terkendali, dan mulai menargetkan teman sendiri karena menganggap mereka “pengkhianat”.
Insiden itu menciptakan peraturan baru: senjata pintar harus memiliki verifikasi dua arah—dari otak dan emosi. Sebuah pelajaran bahwa senjata secanggih apapun tetap bergantung pada kestabilan pengendalinya.
0 comments:
Post a Comment